Jalan Lain

Tulisan ini dibuat pukul dua hari. 

Terbangun hingga jam segini adalah hal yang cukup normal untukku akhir-akhir ini. Jadi, jangan anggap aku sedang berada dalam kesedihan yang berlarut. Tapi, tidak salah jika banyak orang yang mengganggap seperti itu, besok aku akan pergi ke kota lain. Meninggalkan rumah dan teman-teman. Meninggalkan nyaman dan aman pada suatu hal yang kusebut pengorbanan. 


Sedih rasanya, sampai aku tak dapat menguraikannya menjadi kata-kata. Untuk ukuranku yang 18 tahun hidup dengan orangtua, pilihan ini terdengar sangat berat dan i dont even know is it will be that worthy or not. Dalam setiap pengorbanan, aku mau semuanya seimbang ataupun ada 'laba' didalamnya. Namun, tak mungkin semua ini semudah itu terjadi. Pastinya, harus banyak rasa sedih lagi yang harus kulewati jika mengingginkan ini itu. 


Sebagai anak delapan belas tahun, tak banyak pengalaman yang bisa kubagikan. Jika betulpun mungkin akan terdengar seperti buku harian, tulisan ini rasanya juga seperti itu. Coretan keluhan yang tak kunjung padam. Jikalau memang padam, pasti yang lain siap untuk menyerang. Walaupun memahami jika seperti itulah hakikat hidup, namun susah sekali menganggapnya normal. 


Bukan perkara mudah untuk mengabaikan semua perasaan suka cita di kota ini. Aku tidak menyebut masa ini sebagai masa terindah. Aku tidak merindukan semangat masuk sekolah karena nyatanya aku selalu mencari alasan untuk berlibur dan berdiam di rumah tanpa harus terganggu dengan kewajiban ini itu. Aku tidak merindukan riuh canda tawa teman-temanku yang terkadang sulit untuk kupahami alasannya. Aku tidak merindukan hangatnya suasa kelasku yang justru lebih banyak cekcok ini itu. 


Masa sekolahku terlihat biasa saja. Tapi, dibalik semua rasa sedih ataupun kecewa aku tak pernah menyesal melewatinya. Aku bahkan akan menyesal jika tidak melewatinya. Apabila aku tidak terlibat cek cok mungkin aku tak akan mengenal mereka lebih dalam, apabila aku tidak pernah ingin selalu berdiam di rumah aku mungkin tak akan mengenal rindu untuk selalu bersama, apabila aku tidak ikut dalam candaan yang tak ku mengerti mungkin aku tak akan memahami apabila kebahagiaan sungguh sesederhana itu. 


Pilihan ini sebenarnya bukanlah pilihan yang paling ingin kupilih. Seperti kata perahu kertas jika 'cinta itu dipilih bukan memilih' mungkin juga berlaku dikehidupan. Ini bukanlah the worst choices selected tapi tetap saja, ditolak pada pilihan yang kuharapkan menyisakan rasa kecewa tersendiri. Pra menjalani hidup baru, banyak sekali list untuk dikeluhkan. Tapi bagaimanapun, dibalik semua penolakan, kecewa, dan sedih ini tak ada pilihan untuk tidak melewatinya. Aku tau tulisan ini akan berakhir dengan kalimat ini. Kalian semua pun mungkin juga sudah tau. 


I have to take another step now. Face a new hope, laugh with another joke, and cry with another tears. It's never been easy to leave my senior high school vibe or even my little city. But can I choose this or that ? No, ofc. It is a path i have struggle on to. It is a chance i have walk on to. 

Comments